Pendidikan merupakan hal yang
penting dalam kehidupan seseorang, karena
melalui pendidikan seseorang memperoleh
pengetahuan, pemahaman, cara bertingkah
laku dan peradaban manusia pada masa
yang akan datang.
Kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia yang bergantung pada kualitas pendidikan. Pendidikan yang baik pada dasarnya pendidikan yang menghasilkan seseorang yang tinggi kemampuannya untuk belajar (learning to learn), untuk memecahkan masalah (learning to solve problem), dan untuk hidup (learning to be)
Untuk mencapai
pendidikan yang baik diperlukan sebuah
kurikulum yang afektif dan efisien. Guru
memegang peran penting dalam
pelaksanaan kurikulum maka guru pulalah
yang menciptakan kegiatan belajar
mengajar bagi murid-muridnya.
Guru dituntut harus mampu menciptakan situasi belajar yang aktif, menggairahkan, penuh kesungguhan, mampu mendorong kreativitas anak dan dapat membentuk kepribadian atau akhlak anak untuk memiliki rasa peduli terhadap orang lain dan juga rasa tanggung jawab.
Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan adalah lemahnya proses pembelajaran. Proses pembelajaran merupakan proses komunikasi antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa, siswa dengan sumber belajar dalam mencapai tujuan pembelajaran.
Hal yang menjadi masalah adalah bagaimana proses komunikasi itu berjalan dengan efektif agar pesan yang ingin di sampaikan dapat diterima secara tuntas. Oleh karena itu, guru sebagai pendidik dituntut untuk mempunyai kemampuan dalam komunikasi dan berinteraksi dengan siswa sehingga memudahkan siswa untuk menangkap pesan yang disampaikan oleh guru.
Kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia yang bergantung pada kualitas pendidikan. Pendidikan yang baik pada dasarnya pendidikan yang menghasilkan seseorang yang tinggi kemampuannya untuk belajar (learning to learn), untuk memecahkan masalah (learning to solve problem), dan untuk hidup (learning to be)

Guru dituntut harus mampu menciptakan situasi belajar yang aktif, menggairahkan, penuh kesungguhan, mampu mendorong kreativitas anak dan dapat membentuk kepribadian atau akhlak anak untuk memiliki rasa peduli terhadap orang lain dan juga rasa tanggung jawab.
Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan adalah lemahnya proses pembelajaran. Proses pembelajaran merupakan proses komunikasi antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa, siswa dengan sumber belajar dalam mencapai tujuan pembelajaran.
Hal yang menjadi masalah adalah bagaimana proses komunikasi itu berjalan dengan efektif agar pesan yang ingin di sampaikan dapat diterima secara tuntas. Oleh karena itu, guru sebagai pendidik dituntut untuk mempunyai kemampuan dalam komunikasi dan berinteraksi dengan siswa sehingga memudahkan siswa untuk menangkap pesan yang disampaikan oleh guru.
Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Teams Achievement Division (STAD)
Pembelajaran kooperatif STAD (Student Team Achievement Division)
dikembangkan oleh Robert Slavin dkk. Di Universitas John Hopkin dan merupakan
tipe pembelajaran kooperatif yang paling sederhana yang menekankan pada aktivitas
dan interaksi antara siswa dengan siswa untuk saling memotivasi dan membantu
dalam memahami suatu materi pelajaran.
Pada saat ini, banyak konsep pembelajaran tengah
dikembangkan, yang tentunya diharapkan dapat membawa manusia ke arah yang
lebih baik. Salah satu model pembelajaran kooperatif adalah Student Teams Achievement Division (STAD).
Menurut Slavin (Rusman, 2012:213), model STAD (Student Team Achievement Division) merupakan variasi pembelajaran kooperatif yang paling banyak diteliti. Model ini juga sangat mudah diadaptasi, telah digunakan dalam Matematika, IPA, IPS, Bahasa Inggris, Teknik, dan banyak subjek lainnya, dan pada tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi.
Model pembelajaran ini dianggap jenis
pembelajaran kooperatif yang paling sederhana, dan merupakan model yang paling
baik untuk permulaan bagi guru yang baru menggunakan pendekatan kooperatif.
Menurut Slavin (Dian: 2011) pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student
Team Achievement Division) memiliki 5 komponen utama, yaitu:
- Bahan pembelajaran di sajikan oleh guru baik secara langsung ataupun melalui media pembelajaran
- Anggota kelompok terdiri dari 4-5 orang yang heterogen dari segi penampilan akademik, kelamin dan etnis.
- Dilakukan tes individu setelah beberapa kali siswa mengerjakan latihan
- Dilakukan penilaian terhadap nilai kemajuan individu
- Diberikan pengakuan terhadap tim berdasarkan kemajuan anggota kelompok
Cooperative learning STAD merupakan salah satu model pembelajaran yang
telah digunakan dalam berbagai mata pelajaran seperti matematika, bahasa, seni,
sampai IPS dan Pendidikan Agama Islam.
Model pembelajaran ini pada tataran
implementasinya menggunakan pembauran kemampuan empat anggota kelompok
yang berbeda, yakni pembelajaran interaksi normatif, dilakukan dengan sadar dan
bertujuan, dan menjadi pedoman ke arah mana tujuan pendidikan akan diarahkan.
Langkah-langkah model pembelajaran STAD, yaitu:
- Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang secara heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku, dan lain-lain),
- Guru menyajikan pelajaran,
- Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggotaanggota kelompok. Anggotanya yang sudah mengerti dapat menjelaskan pada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti,
- Guru memberi kuis atau pertanyaan kepada seluruh peserta didik,
- Memberi evaluasi, dan
- Kesimpulan.
Model pembelajaran STAD, peserta didik diberi kesempatan untuk
berkomunikasi dan berinteraksi sosial dengan temannya untuk mencapai tujuan
pembelajaran, sementara guru bertindak sebagai motivator dan fasilitator peserta
didik
