Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran CooperatifDua lebih baik dari satu, karena dua akan memperoleh imbalan yang lebih besar atas usahanya. Karena jika mereka jatuh maka yang lain akan menolong, tetapi jika bekerja sendirian jika terjadi kesalahan tidak ada yang menolog….(Ecclesiastes 4: 9- 12).

Begitulah berengkali pandangan tentang bekerja secara bekolompo/tim, satu dan yang lain anggota kelompok saling mendukung dan saling membantu dalam memahami materi pembelajaran. Tiga perspektif teoritis umum yang berkembang yaitu Social-Intedependence Theory, CognitiveDevelopmental Teory, dan Behavioral Learning Teory yang telah menjadi pedoman riset tentang pembelajaran kooperatif.
Keefektifan pembelajaran kooperatif telah ditegaskan baik oleh riset teoritis maupun demostrasi, dan literaturnya meliputi literatur “ilmiah” maupun literatur “profesional”. Hubungan Interpersonal dan Dukungan Sosial : Di dalam setiap kelas guru hati siswanya jika merak ingin agar para siswa mampu menunjukkan usaha yang luar biasa dalam belajar, dan hubungan dengan teman sekelas atau sebaya adalah kunci untuk meraih hati siswa.

Setiap individu akan lebih peduli terhadap satu sama lain dan lebih berkomitmen terhadap keberhasilan satu sama lain ketika mereka bekerja bersama secara kooperatif dibandingkan jika mereka harus bersaing sendiri-sendiri.

Komponen-komponen Esensial Model Pembelajaran Kooperatif 

Kerja sama lebih baik dari sekedar pengaturan tempat duduk. Cooperative Learning melibatkan lebih dari sekedar menempatkan siswa beberapa orang disatu tempat duduk dan menyuruh mereka untuk saling membantu satu samalain.

Banyak hal yang dapat melukai kegiatan kelompok yang kurang mampu hanya menyerahkan sepenuhnya kepada yang lebih mampu atau bisa dikatakan ada anggota kelompok yang hanya mengekor saja. Perlunya Interpendensi Positif untuk setiap anggota kelompok “semua untuk satu, satu untuk semua”.

Dibutuhkan kerja sama yang kompak dalam satu kelompok dan diperlukan adanya tanggung jawab satu sama lain antara nggota kelompok. Interpendensi positif dibangun melalui empat cara. Interpendensi tujuan positif, Interpendensi Imbalan/Selebrasi Positif, Interpendensi sumber daya Positif, dan Interpendensi Sumberdaya Positif.

Tetapi semakin tinggi interpendensi positif di satu kelompok pembelajaran, semakin besar kemungkinan terjadinya ketidak sepakatan intelektual dan konflik di antara kelompok ketika mereka saling membagi informasi, presepsi, pendapat dan kesimpulan.

Interpendensi positif akan menghasilkan komponen esensial kedua dalam pembelajaran kooperatif, yaitu interaksi promotif. Interaksi promotif merujuk pada para siswa yang yeng saling memfailitasi keberhasilan satu sama lain.

Tanggung jawab Individual/Tanggung Jawab Personal : Komponen esesnsail ketiga dari pembelajaran kooperatif, yakni tanggung jawab individual. Setiap anggota kelompok seharusnya memiliki tanggung jawab masing-masing terhadap materi dan tugas yang diberikan. Bertanggung jawab atas keberhasilan teman kelompoknya.

Skil-skil kelompok kecil dan interpersonal adalah komponen esensial keempat dari pembelajaran kooperatif. Kelompok pembelajaran kooperatif menuntut siswa untuk mempelajari mata pelajaran (tugas pokok) akademis serta skil-skil kelompok kecil dan interpersonal yang dibutuhkan dalam menjalankan funsi sebagai anggota kelompok.

Komponen esesnial pembelajaran kooperatif yang kelima adalah pemrosesan kelompok. Kerja kelompok yang efektif dipengaruhi oleh apakah setiap kelompok merenungkan/memproses atau tidak mengenai seberapa baik mereka telah berfungsi. Bayak pendidik yang meyakini mereka telah menggunakan pembelajaran kooperatif padahal mereka kehilangan esesnsinya.

Ada perpedeaan penting antara hanya sekedar menempatkan siswa dalam kelompok untuk belajar dengan menyusun struktur kerja sama di antara para siswa.
LihatTutupKomentar